Cerita Part I | KOSONG | Percakapan

Pernah merasa bodoh akan seseorang

Contohnya seperti ini
Pernah memberinya sepucuk surat, lalu ia baca dan senang. Kata temannya, surat nya ia bawa. 

Keesokan harinya, memberi kembali. Ku selipkan makanan bersama sepucuk surat nya. 

Sampai akhirnya, diberi tau kembali oleh temannya. 'Dia bosan dengan surat, karena katanya isinya itu - itu saja. Tapi tidak apa dia hanya suka makanannya'. 

Seperti tersambar petir. Di otaku dipenuhi dengan kata 'BODOH BODOH BODOH, KAMU BODOH KAMU BODOH' sia - sia, percuma. Dia tidak suka rangkaian kata yang kau berikan untuk dia. Dia hanya suka makanan mu saja. 

Detik saat itu juga aku berhenti. 
Lalu melakukannya lagi. 
Karena menurutku, ku harus menyemangati.
Bodoh sekali.  

Contohnya begini;
Keesokan harinya, ku beri dia lollipop dengan surat. Ku selipkan di barang pribadi miliknya. 

Lalu tak sengaja bertatap muka dengan dirinya. 

'Apakah kamu yang slalu menyimpan sesuatu di barang pribadi milikku?'
'Hah? Tidak. Cek saja tulisan ku jika tidak percaya'
'Sebentar, aku tidak menyebut barang itu apa. Tapi kamu menjawab seperti sudah tau maksudnya' 
'Aku hanya menebak saja'
'Bohong, sekarang aku tau'
'Untuk apa aku menyelipkan barang seperti itu, aku bisa memberi mu secara langsung lihat saja nanti jika tidak percaya'
'Iya-in saja, ku tunggu buktinya'

Esok harinya, ku ke sekolah. Aku tidak tau juga dia ada disana. Oh iya dia baru beres mengikuti perlombaan. 
Dia seperti lelah dan lesu. 

Ku tanya 'Bagaimana sukses? Cape ya?'
Katanya 'Lumayan, ya begitulah'
Kata ku 'Oh gitu, semangat. Aku harus pulang duluan. Dahh'
'Silahkan' 

Berjalan kedepan. Melihat penjual makanan. Kembali lagi kepadanya. 

'Ini untuk mu, ku tau kamu lelah. Kamu butuh asupan untuk sekedar tersenyum padaku'
'Apa ini? Tidak usah repot - repot'
Aku pulang sambil berlari (karena malu dilihati)

Sesampai dirumah. Terdapat notif dari dia. 
'Terimakasih makanannya' 
'Sama - sama' 
'Besok bisa kah bantu aku untuk memeriksa jawaban?'
'Atas perintah siapa?'
'Kata bu salma'
'Insya Allah. Jika sempat karena harus kumpul di organisasi'
'Baiklah, semoga'

Singkat cerita
Dia ada didepan kelas tempatku memeriksa. Ku hampiri dia sambil berkata.

'Kamu sedang tidak ada kerjaan, lebih baik membantu ku'
'Sebentar, nanti ku hampiri mu'

Dia menghampiri dan bertanya harus bagaimana. Ku beri tau apa yang harus ia lakukan. Sambil terus saja melakukan perdebatan.

Begini percakapannya;
'Aku menyebutkan nilainya, kamu yang menuliskannya'
Aku menyebutkan angka, dia menuliskan nya. Sampai tiba - tiba. 
'Sini biar aku saja sendiri'
'Tidak usah aku bantu, biar cepet'
'Lebih cepet sendiri, sini. Kamu makan saja nanti keburu dingin'

Tidak bisa menyembunyikan senang, dia juga peka ternyata. Aku makan, dia menulis haha kasian. Lalu aku merasa kenyang. Lalu aku melanjutkan pekerjaan karena waktu yang terbuang. Dia beres mengerjakan. Aku melanjutkan. Tiba - tiba dimakan makanan yang tadi tidak ku habiskan. 

'Bilang dulu kali sama yang punya' - kata temanku
'Oh iya, aku mau ini. Minta ya' - Katanya (so manis)
'Habiskan saja aku sudah kenyang' - kataku

Dia benar - benar lapar sepertinya. Makanan dan minuman ku juga dihabiskan oleh nya. Aku merasa kok dia mau menghabiskan makanan bekasku, aneh saja. Baru pertama kali dia seperti itu. Makin menjadi saja pikiran dan hatiku berteriak dan bertolak belakang. Ga usah BAPER ga usah BAPER. Gitu katanya. 

Sampai tiba waktunya. Semua terungkapkan. Lewat Chat itu ...
'Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?'
'Tidak apa - apa tidak usah GR'
'Kamu suka padaku?'
Tidak ku balas. Karena bingung harus bagaimana ingin menangis. 
'Bohong, fix kamu suka padaku'
'Jawab, kamu suka padaku?'
'Jika tidak menjawab tanganmu hilang'
'Benar ternyata, kamu suka padaku'
'Tidak, aku tidak suka padamu. Tidak usah GR'
'Menapa kamu suka padaku?'
'Ah gila kamu' 
'Jawab
'Aku sudah ada dia' - Kata dia sambil mengirimkan foto yang sedang dekat dengan nya namun diblur
'Itu siapa? Aku seperti tau, dia partner mu di organisasi? Kamu cinlok? Wahhh' - Kataku (Nyesek)
'Bukan' 

Ku tanyakan kepada pa Nathan. Kata nya dia bukan Partner di organisasi nya, tapi bawahannya. Tenang semua hatiku masih baik - baik saja. Tanpa diduga pa Nathan malah memarahi dia, karena terlalu menanggapiku. Pa Nathan juga menyuruh dia untuk tidak lagi berhubungan denganku. Jelas aku marah. Mengapa jadi pa Nathan yang melarang. Bukan kah aku dan dia memang teman biasa tanpa ada apa - apa. Kata pa Nathan agar wanita yang sedang dekat dengan dia tidak sakit hati. Agar aku juga tidak berharap lagi. Lebih sakit lagi hatiku pa sungguh. Ku WA dia begini; 

'Maaf' 
'Tidak apa'
'Janji kita harus biasa saja ya'
'Iya tenang saja'
'Maafkan aku'
'Tidak usah begitu, biarkanlah ini menjadi pelajaran untuk ku dan dirimu' 

Setelah itu aku menangis se jadi - jadinya. Merasa sangat perih sekali hati ini. Merasa semuanya berhenti. Rapuh lemah sekali aku.

Banyak yang meminta ku berhenti. Mereka memaksaku untuk tidak seperti itu lagi. Bagaimana mungkin mereka berkata semudah itu? Mereka tidak merasakan bagaimana perih, sakit, terluka dan hancurnya aku. Menahan sesak di dada, hilang semua rasa. Semua tidak berjalan, semua seakan mati. Diri dan hati. Hancur lebur. Entah aku apa. Entah aku harus bagaimana jika bertemu nya nanti. Mengapa harus begini, mengapa aku yang harus merasakan semua ini? Mengapa? Tidak bisakah aku baik - baik saja tanpa adanya luka? Mustahil kah? Bagaimana pun. Sungguh aku terluka

To Be Continue

Sebuah Rasa | Sri Rizky
14 Oktober 2018

Comments

Popular posts from this blog

dan lagi;

Kenapa masih kamu ya?

Preparasi Membuat Basis Data Menggunakan CMD Secara Manual