Cerita Part II | KOSONG | Gambaran

TERLUKA

Disekolah ku bertemu dengannya
Kamu tau apa yang terjadi? Asing. 
Kita tidak seperti dulu lagi. 
Hilang semua canda tawa mu kini. 

Katanya, kita harus biasa saja. 
Nyatanya, kita tidak bisa biasa saja. 
Kita sama - sama menghindar dari pertemuan. 
Kita sama - sama takut akan kenyataan. 

Apakah menghindar merupakan respon ilmiah yang dia berikan agar aku segera melupakan? 
Apakah jika dengan cara seperti itu tidak menyesakkan?
Apakah hanya aku yang merasakan dan kamu tidak memperdulikan?
Kamu tidak pernah bisa merasakan sakitnya dihindari oleh seseorang yang selalu ia pikirkan setiap hari. Dia tega. Aku bodoh. 

Contohnya seperti ini;
Ada hal yang harus aku tanyakan dan itu keharusan walau akan sedikit menyakitkan. Ini merupakan masalah kehidupan bukan urusan perasaan. 
'Apa yang harus aku lakukan?' - Tanyaku
'Kamu perhatikan tulisan dalam kertas ini, lalu kamu pahami (Sambil melihat kemana saja) - Jawabnya, lalu ia pergi. 

Apa maksudnya? Aku dihilang - hilangkan dari tatapannya. Entah dia berbicara dengan siapa. Bukan menatapku dan tidak mengarah kepadaku. Hingga saat ini dia slalu seperti itu. Tidak pernah mau berbicara dengan ku. 

Jika ada aku dan teman ku, aku yang bertanya. Ia menjawab, tetapi kepada temanku bukan aku. 

Lalu jika ia bertanya, aku menjawabnya. Tatapan matanya kepada temanku.

Lalu misalnya, aku yang hujan - hujan'an, teman ku yang ia perhatikan dan berbicara *Dinda, jangan hujan - hujan'an* . 

Aku menatapnya, berdiri mematung lalu pergi. Kenapa sih? Padahal aku yang lebih basah. Jika dia tidak bisa membalas perasaan setidaknya ia tidak usah berbicara seperti memperhatikan temanku. Itulah alasan mengapa sebagian orang banyak sekali yang mempertahankan pertemanan. 

Jika teman, tidak akan semenakutkan itu jika berpapasan. Berbeda ketika sudah ada yang terungkapkan, semua menjadi tidak nyaman. 

Ingin memaki, ingin menangisi. Hanya bisa merasakan sakit nya oleh seorang diri. Dia tidak punya hati, maka dia tidak pernah merasa seperti dirimu kini. 
Dia tidak pernah merasakan hancurnya hati, dia tidak pernah menahan sakit nya hati dan dia tidak pernah mengerti. 

To Be Continue 

Sebuah Rasa | Sri Rizky
15 Oktober 2018

Comments

Popular posts from this blog

dan lagi;

Kenapa masih kamu ya?

Preparasi Membuat Basis Data Menggunakan CMD Secara Manual